Kutipan dari ‘Bekisar Merah’

ed404598f3113cabce3c87822d75dacaBagi seorang santri kuno seperti Eyang Mus, suluk yang diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gustinya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelanguk menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila yang ditembangkan adalah bait-bait pilihan.

Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan. Luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Tak putus menyebut nama-Nya. Baginya yang ada hanyalah Allah. Continue reading

Posted in Uncategorized | 19 Comments

Kata-kata Edisi Minggu Pertama Juli 2010

Kata yang sering digunakan pada minggu-minggu ini kurang lebih: Babi, Sampul, Majalah Tempo, Polisi.

Ada yang hendak menambahkan, kata-kata apa lagi, ya?

Oiya, bagaimana dengan: FPI, Kekerasan, Banyuwangi?

Rasa-rasanya sering pula mendengarnya, namun saya kurang suka.

Bagaimana dengan Anda?

Posted in Uncategorized | 13 Comments

Kadar

Tentu saja bukan sekadar aksara ‘e’ di dalam sekedar

Hanya satu huruf itu yang membedakan

Dan kau pun akan selalu terbawa dari ‘kedar’ ke ‘kadar’

Karena ‘kedar’ ada namun tanpa makna

Saat ‘kedar’ hanya menjadi penunjuk untuk ‘kadar’

Jadi, mengapa masih kau tulis sekedar?

Hanya sekadar mengingatkan

kedar (sekedar) –> kadar (sekadar)

Posted in Uncategorized | 18 Comments